Scroll to top

Tentang kode: Sebab cowok bukan ahli nujum


Widya Wicaksono - September 8, 2016 - 0 comments

Ada buku yang bagus berjudul “The Art of Travel” karangan Alain de Botton (dibacanya debotoa). Alain berbicara tentang apa yang penting dari jalan-jalan, ya, jalan-jalan!

Dia berbicara bahwa ke mana pun kita pergi, menyoal ke daerah antah berantah manapun yang ingin kita tuju. Hanya saja kadang kita lupa bahwa kita harus membawa diri ke sana. Ya, kalau jalan-jalan hanya diimajinasikan saja, ya namanya bukan jalan-jalan; melainkan daydreaming alias ngimpi siang bolong.

Seru kali ya ketika kita membayangkan ada di Praha, dan dalam sekejap sudah ada di sana, Mungkin nggak ya? Magis banget kan kalau itu terjadi.

Tapi yang lebih magis lagi kalau ada pria yang langsung mengajak kalian ke pantai saat kalian kasih kode “awan di daerah pantai itu paling bagus ya” atau langsung mengajak kalian ke London saat kalian bilang “Double Decker itu bis tingkat kan ya?”

Atau mungkin langsung bilang cinta saat kalian bilang “seru ya jalan-jalan kemarin”. Kalau menurut kalian semua laki-laki dapat membaca kode seperti itu, artinya kalian terlalu menganggap bahwa laki-laki itu “pintar”. “Pintar” as in semacam ahli nujum, cenayang tingkat dewa yang bisa tahu akan ada badai dari bisikan kupu-kupu!

Ayolah, laki-laki itu tidak sepintar itu (boleh dibaca: ‘bodoh’) soal membaca kode-kode begini; mereka lebih straight forward. Kalian suka makan es krim, bukan berarti laki-laki itu harus mengajak kalian ke Turki kan beli es krim? Kenapa semuanya selalu kode yang sulit?

Tingkatan membaca kode kaum laki-laki itu rendah bahkan Jane Eyre (tokoh fiksi dalam cerita fantasi) selalu membuat pusing detektif kawakan seperti Sherlock Holmes sekalipun. Ayolah, satu-satunya cara agar kalian dapatkan yang kalian mau dari laki-laki hanya dengan bilang langsung.

Apa yang kalian harapkan saat pria tahu bahwa kalian mengkhawatirkan dia kalau pulang malam? Apa kalian mengharapkan bahwa pria ini paham kalau kalian menyukai dia? Seperti apa yang abang Alain bilang, satu-satunya cara agar kita jalan-jalan adalah ya… kita pergi berjalan!

Jadi, satu satunya cara pria ini tahu kalau kalian suka dengan dia adalah dengan bilang “Hei..!! Pria di sana! Aku suka sama kamu loh!” Selesai kan masalahnya, niscaya laki-laki ini akan tahu!

Apa yang kalian khawatirkan sebenarnnya? Malu karena menyatakan duluan? Tidak..! Kalian hanya malu ditolak.

Padahal, bagaimana kalau apa yang kalian rasakan juga yang dia rasakan? Pria itu harus menjaga wibawanya bukan? Itu yang menjadikan mereka lebih insecure dari kalian. Lagi pula, apa salahnya ditolak? Penolakan adalah proses kehidupan yang semua orang harus rasakan, lebih baik rasakan sekarang daripada nanti saat kita sudah tua dan lemah.

Toh, kita belum tentu berjodoh selamanya dengan orang yang kita suka suka saat itu. Paling tidak, hormatilah perasaan kalian itu dengan menyampaikannya.

Pakai sepatu lari, kencangkan ikat pinggang, ambil ancang-ancang dan pasang lagu favorit kalian. berlarilah dengan bangga dalam setiap langkahnya; nyatakan dengan lantang perasaan kalian.

Berlarilah menuju mimpi kalian mulai dari sekarang. Berlarilah terus dan berhenti saat kalian sudah merasa di rumah. Temukan rumah sejati dari lekukan sungai dalam perjalanan ke sana.

Author avatar

Widya Wicaksono

http://www.stikynote.com
orang aneh yang cita-cita nya hampir mustahil dan suka rada satir. Kalo nggak lagi baca buku pasti lagi gambar, kalo ketemu coba colek sedikit. biasanya bikin ketagihan.

Related posts

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *