Scroll to top

Obat kuat, malu atau mau?


Agung Rusmana - September 9, 2017 - 0 comments

Obat kuat dan cinta seolah tidak pernah ada di satu kolom yang sama. Yang satu soal nafsu, lainnya soal rasa. Lantas, apa jadinya jika laki-laki mengejawantahkan cintanya lewat obat kuat dan seks yang indah untuk pasangan? Bagaimana perempuan melihat hal itu sebagai sebuah kado ketimbang urusan libido? Mari kita bicara lebih jauh tentang hal ini.

Mundur jauh 2000 tahun lalu, seksualitas menjadi sesuatu yang diagungkan pada masa Romawi dan Yunani Kuno. Seks sebagai sesuatu yang luwes dan “hajar sana-sini”. Mereka belum mengenal produk peradaban yang mengklasifikasikan hubungan seks sebagai hetero, gay, atau biseksual. Kira-kira itu yang dituliskan oleh Vicki Leon dalam bukunya “The Joy of Sexus: Lust, Love and Longing in Ancient World“. Seks sebagai sesuatu yang dirayakan dan memuaskan; karena memang begitu, paling tidak.

Bak minuman pre-workout yang digunakan atlet sebelum olahraga atau energy drink yang ditenggak sebelum berangkat rave-party; maka obat kuat hanya perkara kebutuhan. Sayangnya, format “viagra” jaman Romawi jauh dari ideal, yakni salep yang terbuat dari kotoran tikus dan selada. Terbayang, kan?

Modern kini, obat kuat sudah dalam format pil biru yang aman dan nyaman untuk dikonsumsi. Tapi, artikel ini bukan soal bagaimana khasiat dan manfaat obat kuat. Kita akan bicara lebih terbuka dan dewasa bagaimana laki-laki (dan perempuan) melihat obat kuat.

Baca juga: Satu kata yang tidak boleh kamu ucapkan saat meminta maaf

Saya membuka obrolan dengan Nanda (27 tahun). Ia kerja sebagai copywriter di digital agency di kawasan Senayan. Bicara seks dengan Nanda tak pernah kaku dan ambigu. Ia menyebutkan semua obyek dengan jelas tanpa malu. Namun, ekspresi wajahnya berkerut saat saya bertanya perihal kekasihnya yang mungkin mengonsumsi obat kuat saat berhubungan.

“Kenapa harus pakai obat kuat, ya? Emangnya gua hypersex? Woles aja, kali,” respons Nanda.

Saya melanjutkan pertanyaan berikutnya, “Kalau tujuannya buat bikin lo senang di saat-saat penting dan berkesan gimana? Kaya anniversary atau apa gitu. Biar kelar lebih pagi.”

“Ya, ujung-ujungnya win-win situation, sih. Dia happy, gua happy,” ujar Nanda mulai mengubah perspektifnya. Lalu, ia menjalaskan faktor-faktor yang tiba-tiba muncul dan menganulir ‘keanehan’ sudut pandangnya pada konsumsi obat kuat saat berhubungan dengan pasangan.

Baca juga: Apakah ‘wonder woman’ perlu sosok laki-laki?

Baginya, hidup di Jakarta yang supersusah kemana-mana dan kerja di agensi yang bisa lembur kapan saja; stamina bisa jadi kendala utama. Dan stamina adalah satu faktor yang menentukan seks bisa melaju sejauh apa. Tanpa intervensi apapun, Nanda melihat obat kuat sebagai komplementer; bukan substitusi. Dengan atau tanpa obat kuat; rasa saat mereka berhubungan seksual tetap ada dan sama.

Saya coba mencari opini kedua dari laki-laki yang pernah mengonsumsi obat kuat. Raka (33 tahun), pegawai IT sekaligus gitaris band indie, mengaku obat kuat bukan lagi hal yang tabu bagi laki-laki dewasa. Banyak yang diam-diam tak bercerita bukan karena merasa malu atau tabu, tapi hanya semata-mata tak perlu diceritakan. Faktanya, 7 dari 10 laki-laki berusia 30-70 tahun mengonsumsi obat kuat di dunia. Jelas bukan angka yang sedikit.

Menurut Raka, latar belakang konsumsi obat kuat di kalangan laki-laki saat ini pun tak lepas dari aktivitas kerja yang makan tenaga. Terlebih mereka selalu menginginkan punya quality time yang sempurna dan berkesan saat bertemu dengan kekasihnya.

“Jangan sampai have sex-nya kentang. Lebih dari setengah hari kita kerja enggak ketemu istri, eh pas ketemu di ranjang bisa ‘pacaran’ cuma bentar. Enggak asik, kan?” tanya Raka sambil nyengir.

Baca juga: Scientist mengungkap laki-laki makan sayur lebih menarik perempuan

Terlepas dari bagaimana opini orang-orang terhadap obat kuat, ada satu cerita menarik dibalik penemuannya. Sebenarnya, tidak pernah ada satu upaya pun penciptaan obat kuat sebelumnya. Pada 1949, dirilis sebuah obat bernama Sildenfil yang diciptakan bagi penderita penyakit jantung dan tekenan darah. Di luar dugaan, ternyata efek yang dihasilkan sildenafil malah menghasilkan ereksi secara maksimal dan drastis.

Setelah berbagai percobaan dan penyesuaian fungsi obat, sildenafil tetap menunjukan hasil yang sama; ereksi yang maksimal pada penis selama 3-5 jam. Sejak saat itu, sildenafil dijadikan viagra (obat kuat) untuk para laki-laki yang butuh stamina ekstra saat bercinta. Seperti kado tak diduga, bukan?

Nah, alinea terakhir ini akan saya gunakan untuk pertanyaan bagi para perempuan yang sedang menatap artikel ini. Bagaimana kamu melihat laki-laki dan obat kuat? Apakah seks dengan obat kuat menjadi berbeda atau sama saja di mata kamu? Lebih baik atau lebih buruk?

Just tell us the ugly truth…

Author avatar

Agung Rusmana

The man who always run from Captain Hook

Related posts

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *