Scroll to top

Catatan terbuka bagi kamu yang sering dibuat penasaran


Widya Wicaksono - September 29, 2016 - 0 comments

Pernah nggak kalian merasa “ini orang sebenarnnya suka nggak sih sama gue? Sebentar gue dimarahi, sebentar gue dibaik-baikin. Tapi kok bikin penasaran ya?”

Jadi, saya mendapatkan email dari salah satu news feed blog yang saya follow. Isinya tulisan aneh soal prinsip polaritas (agak serius sedikit).

Beberapa ilmuan meneliti sifat hewan dengan menggunakan sekelompok anak anjing lucu yang dibagi jadi tiga kelompok. Kelompok pertama berhari-hari selalu disayang oleh peneliti-peneliti itu, kelompok kedua selalu kasar setiap anjing-anjing itu coba mendekat, dan kelompok ketiga diperlakukan seimbang; secara random disayang dan di benci setiap harinya.

Ada hal yang mengejutkan, yaitu ternyata di kemudian hari kelompok anjing yang ketiga yang memiliki sifat keterikatan dan ketergantungan yang lebih dari dua kelompok anjing lain.

Penjelasannya simpel ditulis, karena anak anjing itu mengalami “ketidakpastian” lucu kan? Dan iya “ketidakpastian” itu beda dengan “galau”. Beda jauh banget, coba kamu cari saja di wikipedia kalau penasaran.

Jadi sebenarnya, setiap stress, termasuk stress mental akan “KETIDAKPASTIAN” merupakan unsur untuk terbentuknya keterikatan dan ketergantungan, atau bahkan “cinta”…..eh……..tunggu…..ya, benar, “CINTA!!!!”.

Bahkan bentuk dari kebencian itu terkadang memiliki efek yang bertolak belakang, yang entah bagaimana meningkatkan dan bahkan menyempurnakan cinta, gila nggak tuh! Mungkin ini salah satu pembenaran dari “benci”=“benar-benar cinta”.

Ketidakpastian apakah kita akan dibenci atau disayang oleh orang yang sama, secara psikologis justru dapat menimbulkan perasaan keterikatan dan ketergantungan yang luar biasa terhadap orang itu. Huft, memang hal baik dan buruk yang terjadi dalam hidup kita sering terlihat acak, random, dan di luar kendali kita.

Jadi tidak heran kalau kita sering terjebak akan reaksi dari cinta buta dan penerimaan secara hopeless akan ketidakjelasan hubungan.

Berbicara tentang ketidakpastian itu penting agar kita bisa membuat keputusan terbaik dari berbagai masalah; entah masalah cinta bertepuk sebelah tangan, unrequited love, atau bahkan masalah cinta terlarang. Seiring waktu, pilihan kita sendirilah yang menyaring ‘ketidakpastian’ menjadi ‘pengetahuan’ atau bahkan ‘pengalaman’. Tidak setiap orang di dunia ini adalah pasangan terbaik untuk kita.

Berdasarkan prinsip bertolak belakang itu kita tidak akan pernah tahu, seperti halnya kita tidak akan pernah pasti mengetahui ke mana angin akan bertiup besok. Kita hanya bisa menduga.

Sebenarnya tidak penting siapa yang kita pilih, siapa yang mendampingi kita, atau siapa yang memberikan keseimbangan itu. Semuanya hanya bersandar akan satu dasar pemikiran. yaitu apakah kita akan menerima secara utuh semua kehidupan yang datang kepada kita?

Pasalnya, seiring waktu kehidupan itu sendiri yang akan menyaring hal baik dan buruk untuk kita. Kita hanya bisa menerima seperti ikan dalam aquarium yang tidak pernah menabrak kaca saat berenang. Ikan itu hanya tahu seberapa besar dunianya, tidak  pernah membenci atau merasa disayang oleh tangan yang membersihkan dan memberinya makan.

Intinya, ikan itu hanya menerima secara penuh akan dunianya.

Author avatar

Widya Wicaksono

http://www.stikynote.com
orang aneh yang cita-cita nya hampir mustahil dan suka rada satir. Kalo nggak lagi baca buku pasti lagi gambar, kalo ketemu coba colek sedikit. biasanya bikin ketagihan.

Related posts

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *