Love

Tentang ‘kotak kosong’ yang dimiliki pria

Di daerah perkotaan besar, ada sebuah rumah makan yang menarik perhatian saya. Rumah makan itu memiliki konsep lesahan dengan live band yang menyanyikan lagu-lagu kekinian secara akustik. Terlebih lagi, makanannya super enak, nasinya banyak, daging bebeknya empuk, dan sambal cocolnya juara! Pemandangannya juga sangat indah dengan lapangan besar di sisi barat restoran apalagi kalau dinikmati sore hari.

Kalau zaman dahulu saya melihat lapangan kosong sebesar ini, jujur saya selalu ingin telanjang kaki dan lari-lari kesana kemari di lapangan kosong itu. tTapi itu dulu sebelum kemampuan altetik saya menurun hingga level siput baru melahirkan.

Kalau sekarang saya melihat lapangan kosong lagi, yang saya lakukan biasanya cuma membayangkan kalau saya berlari-lari sambil telanjang kaki. Ya, sebagian besar alasannya itu tadi menurut saya sekarang berlari itu melelahkan.

“Kamu mikirin apa?” tanya seorang gadis di samping saya. Ya, saking serunya membayangkan saya lari-lari di lapangan itu, saya lupa kalau saat itu saya sedang menikmati santap sore dengan wanita yang sudah beberapa bulan saya dekati.

Spontan saya menjawab “nggak mikirin apa-apa kok” entah kenapa wanita ini malah marah. Dan saat saya jujur berkata “lagi mikirin kalo lari-lari di lapangan gak pake sepatu enak kali ya”, di luar dugaan dia malah makin marah. Damn. Salah strategi! Sudah terlihat bodoh, diomelin pula!

Ya, dalam marahnya tentu saya selaku pria yang gagah berani mendadak jadi skut saat dia entah kenapa mampu menyambungkan imajinasi “lari-lari” saya itu dengan kata “Bohong!” dan ditambah kalimat “Pasti mikirin Michelle kan?! Makanya jawabnya ngasal!!!”

Memang sih ini khayalan ngasal. Tapi ya, memang itu yang lagi Saya pikirkan waktu itu. Lagian Michelle siapa?!!.

Saat itu saya hanya bisa diam, khawatir kalau saya bertanya “Michelle siapa?” dia akan makin murka dan menghantam saya dengan piring kaca lalu menjawab “Michelle itu anak gang sebelah yang kamu bilang matanya bagus!” dan *PRAKKKK, hancurlah piring-piring tersebut di kening saya…….. eng ing eng.

Ini kejadian yang lucu dan benar-benar mengherankan bagi saya, dan ya, Ini kejadian nyata (kecuali bagian piring itu hancur ya.

Untuk beberapa saat saya bertanya-tanya, apa yang menjadikan wanita ini mampu menyambungkan kata antara “lapangan” dan “berlari-lari” dengan “wanita lain”. Bagian kreativitas otak mana yang wanita ini gunakan untuk membangun cerita ini.

Terpesona oleh pertanyaan itu kemudian saya melakukan riset dan mendapatkan pencerahan dari Mark Gungor tentang kenyataan bahwa pola pikir wanita itu ibarat bola yang memiliki banyak titik, dan ada satu peraturan bahwa “setiap titik menyambung satu sama lain”; seperti petir yang menyambar.

Contohnya, titik “pekerjaan” menyambung ke “kendaraan” kemudian menyambung ke “sepupu” kemudian menyambung ke “masa depan” dan ke berjuta-juta titik lainnya. Sedangkan untuk pria, pikiran mereka itu tersusun dari kotak-kotak.

Benak pria hanya ada satu peraturan yaitu“setiap kotak tidak menyentuh kotak lainnya”. Ya, saya berharap juga pria memiliki pikiran yang lebih canggih dari ini, tapi sayangnya kenyataan berkata tidak demikian.

Jadi bagi semua pria kotak “main” tidak menyentuh kotak “kerja”, kotak “kendaraan” tidak menyentuh kotak “sekolah”, kotak “lapangan” sangat jauh dari kotak “selingkuhan” dan begitulah seterusnya. Lalu tambah Gungor, ada kotak khusus yang “kosong” atau tidak berisi apa-apa sama sekali.

Dan dari berjuta-juta kotak yang saling tidak bersinggungan satu sama lain, kotak “kosong” inilah yang sering kami kunjungi. Ya, pria sesederhana itu. Pernah apa nggak kalian sebagai seorang wanita murka hanya karena saat ditanya sedang berpikir apa, pasangan laki-laki kalian menjawab “nggak mikirin apa-apa, ya lagi bengong aja.

Ayolah, pria itu kadang memang tenggelam kedalam kotak yang berjudul “kosong” ini. Dan sebagai wanita kalian jangan terlalu mengkhawatirkan itu. Jadi bagi kalian wanita, jangan khawatir dan marah saat pasangan pria kalian tiba-tiba bengong dan menjawab “lagi gak mikirin apa-apa” karena ya memang itulah yang terjadi.

Belajar dari pengalaman saya, jangan buat pasangan atau calon pasangan pria kalian trauma saat mereka melihat lapangan. Toh dari semua kotak didalam pikiran pasangan kalian, ada satu bola kecil yang memiliki nama kalian dan tanpa sadar menempelkan semua kotak.

Setidaknya dia mungkin menyatujan kotak “hobi” dengan kotak “pasangan”, menumpukkan kotak “sarapan pagi” dengan kotak “berdua”, dan memberikan kekuatan yang penting bagi kotak “masa depan” untuk bertemu kotak “kamu” kemudian bergabung menjadi satu dengan kotak “keluarga”.

Tentang ‘kotak kosong’ yang dimiliki pria was last modified: October 6th, 2016 by Widya Wicaksono