Scroll to top

Catatan terbuka untukmu yang suka memendam perasaan


Widya Wicaksono - July 15, 2016 - 0 comments

Pendendam!! Hmmm, bukan awalan yang baik untuk sebuah artikel. Tapi, yah biar saja, pendendam di sini bukan manusia yang bangkit dari kubur dan menghancurkan seisi kota. Tapi pendendam yang dimaksud adalah makhluk nelangsa yang mendendam perasaan sukanya kepada manusia idamannya.

Mengejar orang yang kita suka itu memang seru, entah kenapa perasaan suka itu bisa muncul begitu aja. Tanpa permisi dan tanpa peringatan, yang ada hanya dengkul yang gemetaran dan nafas yang terengah saat kita melihat orang yang kita suka.

Saat kita tiba-tiba bertemu orang yang kita di lorong sekolah, satu antrian di kantin, atau mungkin saat tidak sengaja mengambil mata kuliah yang sama. Bayak saat-saat lainnya lah!

Alam semesta memang suka curang apalagi kalau urusannya pertemuan dengan orang yang kita suka. Terkadang alam semesta rasanya suka sengaja menghentikan waktu; membuat kita memperhatikan lebih banyak tentang orang itu, tentang bagaimana ia tertawa, bagaimana senyumnya membuat mulutnya lebih lengkung, bagaimana matanya yang sipit menyembunyikan kerlingan yang seakan-akan bisa bertahan selamanya.

Aahhhh, bahkan saat kita berpisah jauh dengan dia, rindu itu datang seakan menampar dada. Curangnya lagi, saat bertemu dengan orang itu, rindu itu tidak berkurang, tapi hanya bisa bertambah. Curang bukan?

Tapi, sampai kapan kita akan selalu seperti itu? Yang cukup senang hanya dengan melihat pipinya bagian kanannya dari jauh. Padahal, di sisi lain kita menginginkan orang itu juga merasakan perasaan yang sama dengan kita, bukan?

Tapi apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus lewat terus dalam diam di depan dia? Sampai kapan? Sampai dia bilang kalau dia mau? Padahal kita tidak bertanya apa-apa sama sekali? Nggak berani?

Memangnnya dia bisa membaca pikiran kita? Mengerikan kalau dia bisa membaca pikiran kita sih!

Kita sebenarnya paham satu hal bahwa kita pada dasarnya harus menyatakan perasaan kita. Tapi sebenarnya apa yang menghalangi? Apa ego?

“Ah gue kan cewek, masa nyatain duluan! Gengsi dong!!!”

Kalimat penuh keegoismean tinggi tuh! Padahal di sisi lain kita mau banget! Belum lagi, bisa jadi orang yang kita suka juga menahan perasaan yang sama dengan masalah yang sama.

Bagaimana dia terbelalak saat bertemu mata dengan kita dari jauh, bagaimana gugup nya dia saat bertemu satu antrian dengan kita, dan hanya tertawa garing saat berbicara dengan sahabatnya karena yang dia perhatikan hanya kita yang ada di depannya?

Dan bagaimana dia bersemangat saat perjalanan pulang hanya ingin memperhatikan kita sampai di depan bus dengan selamat, dan seraya melambaikan tangan dari jauh?

Atau bagaimana bimbangnnya dia saat mengkhawatirkan banyak hal yang tidak ada di dalam dirinya, tidak kaya, tidak mapan, tidak menarik, tidak kurus, dan lain lain. Pokoknya hal-hal yang hanya membuatnya tidak pede untuk menyatakan perasaannya kepada kita.

Memang, perasaan takut di tolak itu lebih menakutkan dari rasanya ditolak. Kalau rasa ditolak itu ibarat meteor jatuh ke bumi dan kena pas banget ke ubun-ubun, maka perasaan takut ditolak bisa diibaratkan bahwa kita meteornya yang mau jatuh ke bumi itu.

Bagaimana pun juga, dibanding perasaan takut yang besar itu, menurut saya perasaan yang terpendam adalah musuh yang sebenarnnya. Ia menjauhkan dua hati yang harusnya bersatu; yang bisa berjalan buruk kedepannya atau berjalan manis kemudian.

Perasaan yang terpendam ini malah akan menumbuhkan kekhawatiran, kurangnya semangat hidup, dan keterbatasan penglihatan. Tidak percaya? Bukankah perasaan terpendam kerap membuat kita tidak melihat sosok lain yang kemungkinan memberikan kasih sayang kepada kita secara tulus?

Jadi, berhentilah mulai sekarang! Berhenti memendam! Nyatakan selantang mungkin. Bisa jadi alam semesta berkehendak bahwa kalian akan bersama, siapa tahu?

Namun, apabila tidak ya hadapi saja, matikan musik dan dengarkan kesunyiannya untuk sesaat. Sesekali nikmati rasanya tenggelam kedalam bumi. Apabila kalian memutuskan cukup hanya menjadi seorang pendendam, paling tidak dengan pesan ini, kalian tahu kapan untuk berhenti.

Author avatar

Widya Wicaksono

http://www.stikynote.com
orang aneh yang cita-cita nya hampir mustahil dan suka rada satir. Kalo nggak lagi baca buku pasti lagi gambar, kalo ketemu coba colek sedikit. biasanya bikin ketagihan.

Related posts

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *