© 2019, Norebro theme by Colabr.io Team, All right reserved.

Pengalaman perdana solo travel ke luar negeri: Ho Chi Minh City


admin - April 17, 2019 - 0 comments

Untuk saya yang pertama kali solo travel ke luar negeri, menjajaki tiga negara adalah hal yang sangat luar biasa. Yup, this is my first time to solo travel abroad!

Persiapan ini dilakukan hanya dalam waktu tiga bulan. Sudah lama pikiran ingin solo traveling terbesit di pikiran saya. Terlebih karena saya sangat menyukai negara-negara eksotis.

Persiapan pertama tentu saja membeli tiket pesawat. Saya membeli tiket pesawat segera setelah saya terpikir untuk melakukan trip ini. Sangat random, karena saya beli hanya tiket pergi saja.

Saya membeli tiket di website yang langsung menyaring harga terbaik. Yha, harga terbaik yang saya bayar dengan menunggu enam jam transit di Changi airport, sebelum melakukan perjalanan ke tujuan utama.

Destinasi yang saya pilih yaitu, Vietnam, Cambodia dan Thailand. Kenapa negara tersebut? Karena ini adalah trip pertama saya ke negara orang, jadi lebih baik di mulai dari bagian selatan. Okay guys, kita mulai ya!

Traveling sendiri ke Ho Chi Minh City. Mari eksplorasi kota padat di Vietnam ini!
Sudah siap jalan-jalan.

Hello, Ho Chi Minh City, Viet Nam!

Beruntung sekali bisa mengenal negara ini; mulai dari sejarah, aneka makanan yang beragam, dan tradisinya. Saat tiba di bandara international Tan Son Nhat, saya membeli sim card terlebih dahulu. Harga sim card yang saya beli sepertinya terbilang mahal, 300.000 VND (Rp193.660,-), 10gb untuk pemakaian seminggu.

Lumayan untuk update sosial media, koneksinya juga cepat. Dari bandara, saya lanjut naik bis menuju Ho Chi Minh City (HCMC), harga tiket bisnya hanya 20.000 VND (Rp12.907,-).

Sebenarnya tidak begitu kaget saat pertama kali menginjakkan kaki di HCMC. Suasana yang ada di HCMC tidak jauh beda dengan Jakarta; apalagi kondisi lalu lintasnya. Mungkin bisa saya sebut kalau kondisi lalu lintas di HCMC lebih buruk, deh! Trotoar sudah seperti jalan umum untuk kendaraan bermotor.

Saya menginap tiga malam di Toi’s Travel Home Central, dengan pilihan ruangan dorm khusus perempuan berisi 12 tempat tidur. Harga per malamnya yaitu Rp 131.000. Lokasinya sangat dekat dengan pusat kota dan tempat-tempat wisata.

Ruangan untuk makan dan lainnya

Sesaat setelah sampai ke hostel, saya sangat lelah dan memutuskan untuk istirahat. Saya ke luar hanya untuk makan malam. Makan malam saya saat itu adalah Pho, makanan khas Vietnam yang merupakan rice noodles soup. Harga untuk satu porsinya adalah 69.000 VND (Rp 44.234).

Seporsi Pho Quyen.

Saya siap menjelajah HCMC di hari kedua. Destinasi pertama saya ke Ben Thanh Market yang lokasinya tidak jauh dari penginapan. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di pasar ini; seperti membeli pernak-pernik dan jajanan pasar khas Vietnam.

Bagian dalam kantor pos.

Setelah beberapa menit mengelilingi pasar, saya putuskan untuk keluar dan pergi ke tempat paling populer di HCMC, yaitu Central Post Office.

Kantor pos ini di desain oleh orang yang sama dengan yang mendesain menara Eiffel dan patung Liberty, Gustave Eiffel.

Persis di depan Central Post Office HCMC, terdapat pula bangunan lain yang sering dikunjungi wisatawan, yaitu Notre-Dame Cathedral Basilica. Sayangnya di hari itu saya tidak bisa memasukinya karena sedang dalam perbaikan.

Setelah itu saya menunjungi War Remnants Museum yang tidak begitu jauh dari dua lokasi sebelumnya. Di tempat ini saya merasa sedih sekali ketika melihat dokumentasi perang Vietnam pada saat itu.

War Remnants Museum.

Sangat miris, beberapa foto yang ditampilkan menurut saya tidak layak dipajang. Jujur saja, di sini saya menitikkan air mata dan hanya meluangkan waktu sekitar sepuluh menit.

Perjalanan pulang saya memilih arah berbeda. Mengandalkan navigasi Google Maps. Saya menemukan sebuah tempat yang isinya adalah beberapa barang kuno, namanya Dan Sinh Market. Untuk harga agak bersaing sih. Namun, jika kamu seorang kolektor barang-barang kuno, mungkin tempat ini bisa menjadi surga belanja kamu, guys!

Makan malam hari itu saya putuskan untuk searching dulu di YouTube dan menemukan rekomendasi makanan dari Strictly Dumpling, Mike Chen.

Lokasi tempat makan agak jauh. Berhubung sudah mulai lelah, saya menggunakan Grab Bike. Hanya 10000 VND (Rp6500,-).

Saya makan di BÚ NÈ 3 Ngon. Mencoba banh mi yang biasanya dimakan untuk sarapan. Tempat ini menjual Banh Mi dalam sajian hot plate, ditambah telur mata sapi, dan potongan keju yang lembut. Satu porsi dihargai 38.000 VND (Rp24.344,-).

Banh MI Hot Pot.

Selesai makan malam, saya janjian dengan seorang teman yang baru saya kenal saat perjalanan pulang dari pusat kota tadi. Malam itu saya berjalan kaki sambil bertukar cerita. Rupanya, ia adalah jurnalis.

Di beberapa tempat HCMC tidak begitu ramai di malam hari. Namun, ada Bui Vien Street, area khusus bar. Teman saya mengatakan kalau area ini sudah ada dari perang Vietnam. Sedari dulu sudah menjadi tempat para pernikmat dunia malam. Tentara Vietnam pun melepas penat di sini.

Bui Vien Street.

Kalau dilihat banyak sekali bangunan kuno di area ini. Menarik ya?! Sayangnya saya tidak suka area tersebut karena terlalu ramai. Suara musiknya sangat keras. Jadi hanya melewatinya saja.

Ya itu lah sekelumit perjalanan saya untuk hari pertama dan kedua di HCMC. Masih ada beberapa hari lagi yang ingin saya ceritakan ke kalian semua. Kemudian ada tips untuk para perempuan yang ingin melakukan solo trip. Mau baca kan yaaa?!!! Ditunggu yaaa…

Related posts

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *