Living Well

No-gadget brunch, kenapa tidak?

No-gadget brunch, kenapa tidak

Di tengah sebutan generasi menunduk, sebenarnya jauh dalam lubuk hati pasti ada saat-saat kita bosan dengan gadget. Nggak percaya? Mari Iky ajak you guys untuk berpikir.

Dilansir dari CNN Indonesia, Lembaga riset Childwise yang berbasis di Inggris melakukan riset dan mengungkapkan bahwa anak masa kini rata-rata menghabiskan waktu 6,5 jam per hari untuk beraktivitas dengan gadget-nya. Tentunya kecenderungan kita berlama-lama di depan gadget membawa pengaruh buruk baik fisik dan psikologis. Kita jadi cenderung anti sosial, nggak sabaran karena selalu dilatih instan, plus ancaman kesehatan mata dan tingkat gula darah.

Walaupun gadget memang seadiktif itu, nyatanya sudah banyak dari generasi yang disebut menunduk; mencoba untuk melawan itu. Mungkin di satu sisi, kita sudah mulai sadar kalau “Kayaknya, i am lost; i just getting worst!”. Coba perhatikan, ada berapa banyak dari kita yang jadi concern baca buku, cari bacaan bagus, travelling ke tempat yang nggak ada sinyal, dan semacamnya?

Baca juga: 5 Tempat mencari ketenangan setelah putus

Sadar dengan hal itu, majalah dan buku yang menjawab kebutuhan informasi ‘niche’ kaum urban pun bermunculan. Peminatnya pun semakin berkembang; walau mungkin dirasa agak lamban di Indonesia.

Nah, untuk kamu yang sedang di masa ingin sedikit mengurangi penggunaan gadget, no-gadget brunch bisa jadi pilihan untuk weekend getaway kali ini. Rupanya no-gadget brunch ini disinyalir akan menjadi trend di kala intensitas penggunaan gadget yang semakin tinggi.

Baca juga; Plesiran ke Pulau Sepa, ‘little Bali’ dekat Jakarta

Apa itu no-gadget brunch?

Intinya kegiatan ini semacam detoks untuk para pengguna gadget. Kamu dan beberapa temanmu (bisa gebetan, pacar, atau mantan yang masih akrab) pergi bersama ke sebuah kafe atau tempat nongkrong. Kalian hanya perlu meletakkan gadget di tengah-tengah meja makan dan mulai mengobrol sambil menikmati kudapan dan segelas kopi atau teh.

Nikmati waktu sosial kamu bersama teman baikmu itu. Kamu bisa curhat, gosipin orang, atau sekadar ngobrol tanpa arah. Permainan jadi semakin menarik ketika ada tantangan; siapa pun yang mengecek notifikasi terlebih dahulu, dia yang bayar.

Baca juga; Anti unfollow mantan, mute saja akun Instagram mereka

Kenapa no-gadget brunch potensial jadi trend?

No-gagdet brunch bisa jadi pengingat bahwa kita sebenarnya adalah makhluk sosial. Kita butuh berinteraksi tanpa dibatasi layar. Tatapan mata, suara, dan gerak tubuh yang jadi perhatian kita tentu jadi elemen menyenagkan dalam interaksi langsung.

Seiring banyaknya orang yang sudah mulai jengah dengan kebanyakan waktu di depan gadget, kegiatan beberapa jam tanpa internet jadi aktivitas yang menyenangkan. Sudah banyak, kan yang mencoba untuk sign out Instagram beberapa jam untuk sekadar istirahat dari notifikasinya? So, tidak heran no-gadget brunch potensial jadi trend.

Baca juga: Editor’s Guide: Kafe di Jakarta untuk me time

Penekanannya bukan pada brunch-nya. Sebenarnya mau dinner, breakfast, atau ngopi sore bisa saja dilakukan. Intinya, ini hanya sebuah aktivitas dari segelintir orang yang ingin meningkatkan interaksi sosial dengan orang lain di sekitarnya. Tertarik? Yuk, coba di akhir pekan ini!

No-gadget brunch, kenapa tidak? was last modified: June 30th, 2018 by Admin