Love, Women

Menghadapi stereotip single

Menghadapi steriotip single

Menyandang status ‘single’ itu tidaklah mudah. Pertama, kita harus benar-benar dealing dengan diri sendiri, plus kita juga harus dealing dengan berbagai perspektif keluarga, teman, atau mungkin mereka yang hobinya nyinyir.

Sebenarnya menerima status single itu jauh lebih mudah daripada menghadapi berbagai perspektif yang muncul lewat aneka pertanyaan dan statement. Misalnya saja betapa mudah pertanyaan ‘kapan sih kamu mau settle?’ terasa sangat sensitif. Padahal, kata settle sama sekali tidak ada kaitannya dengan pernikahan. Tidak semua yang menikah itu sudah settle, bukan?

Baca juga: Catatan buat jomblo yang suka mendengar curhatan orang lain

Baru-baru ini seorang psikolog sosial dari Harvard, DePaulo, Ph.D. mencetus istilah ‘singlism’ yang ditujukan untuk mereka yang lajang plus kalian yang punya teman-teman lajang.

DePaulo menjelaskan singlism sebagai stigma orang dewasa yang masih lajang. Ini termasuk stereotip negatif dan diskriminasi pada para lajang. Coba perhatikan, seberapa banyak kita menerima informasi tentang manfaat pernikahan atau bahaya melajang? Mungkin jumlahnya lebih banyak daripada bahaya pernikahan dan manfaat melajang. Well, iya atau tidak? Malah mungkin banyak sekali informasi yang bikin kita kemudian jadi khawatir karena belum menemukan orang yang tepat di luar sana.

Menghadapi teman yang single

Yes, kita mungkin peduli dengan teman yang lajang; ingin dirinya segera menikah dengan orang yang tepat. Itu sangat baik, namun kamu harus menggunakan cara yang halus, tanpa menyakitinya. Ingat, mereka berhadapan dengan stereotip single yang bagi kebanyakan orang terasa sangat sensitif.

Kamu harus menyadari kalau kesendirian seseorang tidak menentukan kebahagiaan orang, sama halnya seperti pernikahan. Daripada mendesaknya untuk segera bertemu laki-laki impiannya, coba dengarkan keluh kesahnya. Jadilah bagian dari perjalanannya menemukan laki-laki idamannya, bukan malah: “Udahlah terima aja, mau kapan lo jomblo?”.

Baca juga: 4 Hal dalam pertemanan yang bikin kamu nggak seru atau jadi benalu

Menutup telinga dari Singlism

Baca juga: Bagaimana seharusnya membangun percakapan yang asyik di Tinder

Kemudian untuk kamu yang masih single. Kamu tidak akan bisa mengubah perspektif orang, yang bisa kamu lakukan hanyalah tidak memikirkannya terlalu dalam. Bila belum memiliki pasangan, jangan pernah mengkaitkannya dengan kekurangan kamu. Ini saat yang tepat untuk memaksimalkan potensi yang ada pada dirimu.

Hingga suatu hari nanti kamu sudah siap. Niscaya, kamu tidak akan menyesal saat kamu benar-benar memaksimalkan saat single-mu.

Menghadapi stereotip single was last modified: September 11th, 2018 by Admin