Scroll to top

Mencoba Starbucks Pumpkin Spice Latte di Indonesia


admin - September 24, 2019 - 0 comments

Starbucks Pumpkin Spice Latte.

Sering ke Starbucks belakangan ini? Kamu mungkin sering bertanya soal pumpkin spice latte. Menu seasonal yang satu ini memang cukup menarik perhatian. Di satu sisi, enggak banyak yang berani mencoba rasa baru ini. Hmm, Rp 57 ribu untuk ukuran grande, dengan rasa yang belum tentu cocok di lidah. Pastinya bikin kamu berpikir dua kali.

Sebenarnya, ide pumpkin spice latte datang dari tahun 2003. Pembuatnya adalah Peter Dukes yang datang ke Starbucks pada 2001. Dua tahun kemudian, ia diminta untuk membuat minuman espresso untuk musim gugur.

Muncullah ide Pumpkin Spice Latte (PSL). Musim gugur di tahun itu membuat Starbucks meluncurkan PSL di 100 gerai yang berada di Vancouver dan Washington, D.C. untuk percobaan.

Oh iya, bahan PSL ini adalah kopi, susu, puree labum dan rempah.

Ada beberapa versi soal hadirnya rasa pumpkin spice. Beberapa sumber mengungkap kalau rasanya mirip British spice medley ’mixed spice’ atau ‘pudding spice. Dibuatnya dari beberapa bahan; namun yang paling mendominasi adalah cinnamon, pala, cengkih, jahe, dan allspice —sejenis merica dari Jamaika. 

Starbucks Pumpkin Spice Latte

Dilansir Guardian, minuman ini tersedia di 50 negara. Tahun lalu, minuman ini membawa keuntungan kotor hingga USD 1,4 Milyar. Namun, apakah iya, minuman ini cocok untuk dipasarkan di Indonesia. Mengingat kita juga tidak punya musim gugur.

Ketika dicoba, rasanya begitu eksotik. Mungkin karena penggunaan rempahnya. Apalagi bila dipesan less sugar, ada sedikit aroma pumpkin yang tersisa ketika selesai menyesapnya.

Tentu yang tak luput dari perhatian adalah penggunaan pala. Sebagaimana kita tahu, pala merupakan rempah asli Indonesia. Tak heran kalau rasa Pumpkin Spice Latte juga bisa diterima di lidah kita. Patut dicoba, sebelum season-nya selesai.

Related posts

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *