What's Happening

From DWP 2017, how it feels to be alone at biggest rave party in Indonesia?

Setahun jadi jomblo jelas bikin saya terlatih menjalani kesendirian; mulai dari makan, nonton, sampai berjam-jam menuntaskan deadline di coffee shop seorang diri. Semua bisa teratasi dengan wajar tanpa kekhawatiran sedikit pun. Namun, sedikit cemas muncul ketika saya harus berkunjung ke DWP 2017 seorang diri.

Ya, bayangkan kamu harus datang ke gelaran rave party terbesar di Indonesia yang rutin diselenggarakan Ismaya Live tiap tahun seorang diri.

Ini bukan tahun pertama saya menghadiri Djakarta Warehouse Project. Bahkan terbilang jadi pengunjung rutin sejak gelaran pertama kalinya pada 2010. Namun, hampir tiap tahun–seperti kebanyakan pengunjung–saya jarang datang seorang diri. Dipastikan datang dengan teman yang bisa sing along atau seseorang yang bisa saya peluk sepanjang malam.

Sayangnya, tahun ini menjadi sangat berbeda ketika satu persatu rekan pesta gagal datang karena masing-masing kendala. Alhasil, datanglah saya seorang diri ke Djakarta Warehouse Project 2017 yang berlangsung pada 15-16 Desember 2017 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.

In a good way, ternyata berkunjung ke Djakarta Warehouse Project 2017 bisa memberikan saya bersenang-senang dalam perspektif yang baru. Simak daftar berikut!

Cepat Masuk di “No Bag Entry”

Seperti yang kita tahu, saat berkunjung ke festival, biasanya akan ada dua akses yang membagi antrean. Pertama, antrean “With Bag” superpanjang yang dipenuhi oleh para pengunjung cewek (atau sebagian cowok) dengan essential’s party kit di tas. Hal itulah yang saya rasakan tahun lalu ketika harus menemani teman perempuan saya antre di antrean “With Bag” berjam-jam.

Namun, tahun ini, saya–yang memang nyaris tidak pernah bawa tas ke rave party--bisa mengantre di jalur “No Bag” dengan cepat dan bebas hambatan. Alhasil, saya punya lebih banyak energi untuk dance sepanjang rave party.

Using token wisely

Salah satu yang paling menarik dari Djakarta Warehouse Project dan festival Ismaya Live lainnya, adalah sistem token untuk pembelian makanan. Jujur saja, saya termasuk orang yang cukup nyaman dengan sistem ini. Pasalnya, kita tidak perlu lagi ribet memikirkan uang kembalian, atau menyortir deretan price list dalam rupiah lagi saat beli makanan. Satuan token jadi lebih praktis.

Sayangnya, semua kepraktisan itu bisa jadi hal yang rumit ketika kita pergi dengan teman yang kurang bijak belanja token. Tanpa perhitungan atau perencanaan yang matang, sering kali saya harus menemani teman bolak-balik antre ke booth token lantaran token yang ia beli ternyata kurang. Nah, hal ini jelas tidak saya alami ketika pergi sendiri ke rave party.

You can’t be trully alone

Baca juga: 6 Tipe laki-laki yang bakal kamu temui di online dating

As you know, seperti yang saya tulis di judul, DWP 2017 adalah salah satu event rave party terbesar di Indonesia yang rutin digelar tiap tahun. Jadi, bisa dipastikan ada jutaan orang dari berbagai penjuru Indonesia–bahkan dunia–datang ke event ini. Hal itu terbukti ketika dua hari berturut-turut saya tidak pernah benar-benar sendiri di Djakarta Warehouse Project.

Pada hari pertama, saya bertemu dengan teman-teman SMA di Cosmic Station bermodal janjian via Instagram Stories. Sejak pukul 22.10, kami menikmati racikan musik apik dari Marlo, Ilan Bluesyone, hingga Sander Van Doorne: Purple Haze. Menjelang larut malam, saya pamit ke Garuda Land untuk menyaksikan aksi Rehab, Flume, Marshmello hingga DJ pamungkas Tiesto di penghujung DWP hari pertama.

You on you’re own playlist

Tiap tahunnya, Djakarta Warehouse Project selalu berhasil menghadirkan deretan DJ kakap dari lokal dan internasional. Hal itu tentu saja jadi sebuah keleluasan bagi saya buat menentukan musik jenis apa yang ingin dinikmati. Sayangnya, hal itu bisa jadi diskusi panjang dan toleransi berlarut-larut ketika pergi bersama teman atau pacar.

Pada Djakarta Warehouse Project 2017, variasi itu hadir lebih menggiurkan dalam kemasan yang lebih vibrant. Panggung utama Garuda Land dibanjiri deretan DJ besar seperti Moe, Andre Dunant, W.W, DVBBS, Galantis, Steve Aoki, dan Hardwell. Dua panggung lainnya juga menawarkan nuansa yang sangat berbeda; Live Etc. & Elrow.

Di Live Etc. Stage, kita bisa dengar sajian musik dari Audryg, Iyal Noor, DJ Yaksa, Joji, Keith Ape, Bassjackers, dan Flosstradamus. Tidak ketinggalan, penampilan local heroes yang paling ditunggu-tunggu yakni Rich Chigga.

Elrow Stage cukup jadi primadona di DWP 2017. Pasalnya, area ini hadir dengan konsep Psychedelic Trip yang terkemas apik lewat dekorasi dan line-up DJ-nya. Mulai dari Fun on A Weekend, Toni Varga, Loco Dice, sampai Richie Hawtin. Mereka memainkan berbagai set dari panggung yang dihias dengan tinta neon sehingga berpendar sepanjang malam bikin suasana semakin chill.

Finally, here we are at the conclusion. Harus diakui kalau datang ke rave party bareng pacar atau teman selalu bisa memberikan keseruan dan kemesraan yang menarik. Siapa sih yang bisa menganulir intimnya sing along saat Hardwell bawain Something Just Like This dari Coldplay bareng pacar? Atau, jingkrak bareng saat DVBBS bikin suasana pecah lewat beat-beat ngeri khasnya.

Baca juga: Lakukan hal ini supaya weekend-mu terasa lebih lama

Tapi, ternyata datang sendiri juga tidak bikin semua kesenangan itu berkurang porsinya. Saya bisa lebih efisien energi tanpa antre di jalur “With Bag”, memilih stage yang mau dikunjungi tanpa repot diskusi, dan sebenarnya saya tidak pernah benar-benar sendiri sepanjang festival. Selalu ada jutaan teman yang memang kamu kenal atau teman dalam berpesta yang bisa kamu temui di Djakarta Warehouse Project 2017.

So, how it feels to be alone at the biggest rave party in Indonesia? The answer is not about who you are going with, but how you enjoy the festival itself.

See you, Djakarta Warehouse Project 2018!

From DWP 2017, how it feels to be alone at biggest rave party in Indonesia? was last modified: December 27th, 2017 by Agung Rusmana